Tampilkan postingan dengan label >Ekologi Tumbuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label >Ekologi Tumbuhan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Februari 2017

EKOSISTEM AQUATIK

BAB I
PENDAHULUAN
 1.1  Latar Belakang
Ekosistem akuatik adalah ekosistem yang lingkungan hidup eksternalnya dikuasai dan di ungguli oleh air tawar, yang merupakan habitat dari berbagai makhluk hidup. Berbicara tentang ekosistem akuatik tidak bisa lepas dari meninjau masalah kelestarian air itu  sebagai komponen lingkumgan hidup yang utama. Air yang terdapat dalam system akuatik ini merupakan air permukaan (ada juga air tanah bagi sumber air untuk manusia) yang bisa digunakan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhannya akan :
-Air minum
-Mandi, cuci, kakus (MCK) yang biasa disebut juga sebagai kebutuhan domestic.
- Pertanian
-Perikanan
-Pembangkit tenaga listrik
- Navigasi dan rekreasi
Khusus untuk air permukaan ini kecenderungan di Indonesia memberikan indikasi yang makin memburuk di tinjau dari segi kuantitas dan kualitas airnya. Ini erat hubungannya dengan perusakan dan pereduksian ekosistem hutan di kawasan hulu sungai. Secara praktis kuantitas air sungai ditentukan oleh naik turunnya debit air di musim hujan dan musim kemarau sepanjang tahun. Sedangkan kuantitasnya ditentukan oleh kadar pelumpuran dan tingkat pencemarannya.Karena itu, upaya pelestarian sumber daya air harus merupakan prioritas kalau kita tidak menginginkan sumber komoditi yang sukar diperoleh dimasa datang.
  
1.2  Rumusan Masalah
1.  Apa pengertian hutan pantai?
2.  Apa pengertian rawa?
3.  Apa pengertian Mangrove?
4.  Apa pengertian Ekosistem Air Tawar dan sebutkan macamnya?
5.  Apa pengertian Ekosistem Air Laut dan sebutkan macamnya?
6. Apa pengertian  Eustuaria Laut dan sebutkan macamnya?
7.  Apa pengertian  terumbu Karang dan sebutkan macamnya?
8. Apa pengertian  ekosistem dan sebutkan macamnya?
9  Apa pengertian  Bentos dan sebutkan macamnya?

1.3  Tujuan
1.  Mengetahui  pengertian hutan pantai
2        Mengetahui  pengertian rawa
3        Mengetahui  pengertian mangrove
4        Mengetahui  pengertian ekosistem air tawar serta  macamnya
5        Mengetahui  pengertian ekosistem air laut serta  macamnya
6        Mengetahui  pengertian  eustuaria laut serta  macamnya
7        Mengetahui  pengertian  terumbu karang serta  macamnya
8        Mengetahui  pengertian  ekosistem serta  macamnya
9        Mengetahui  pengertian  bentos  serta  macamnya

  
BAB  II  PEMBAHASAN

2.1     Hutan Pantai

Hutan pantai adalah hutan yang menyebar di sepanjang pantai yang tidak tergenang oleh pasang surut air laut dengan luas + 3,3 juta hektar. Ciri umum ekosistem ini antara lain adalah :
1)      Tidak terpengaruh iklim;
2)      Tanah kering (tanah pasir, berbatu karang, lempung);
3)      Tanah rendah pantai;
4)      Pohon kadang-kadang ditumbuhi epyphit; dan
5)      dapat dijumpai terutama di pantai selatan P. Jawa, pantai barat daya Sumatera dan pantai Sulawesi.
Berdasarkan susunan vegetasinya, ekosistem hutan pantai dapat dibedakan menjadi 2, yaitu formasi Pres-Caprae dan formasi Baringtonia.
1)      Formasi Pres-Caprae; Pada formasi ini, tumbuhan yang dominan adalah Ipomeea pres-caprae, tumbuhan lainnya adalah Vigna, Spinifex littoreus (rumput angin), Canavalia maritime, Euphorbia atoto, Pandanus tectorius (pandan), Crinum asiaticum (bakung), Scaevola frutescens (babakoan).
2)      Formasi Baringtonia; Vegetasi dominan adalah pohon Baringtonia (butun), tumbuhan lainnya adalah Callophylum inophylum (nyamplung), Erythrina, Hernandia, Hibiscus tiliaceus (waru laut), Terminalia catapa (ketapang).
2.2   Rawa
Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis.
Definisi yang lain dari rawa adalah semua macam tanah berlumpur yang terbuat secara alami, atau buatan manusia dengan mencampurkan air tawar dan air laut, secara permanen atau sementara, termasuk daerah laut yang dalam airnya kurang dari 6 m pada saat air surut yakni rawa dan tanah pasang surut. Rawa-rawa , yang memiliki penuh nutrisi, adalah gudang harta ekologis untuk kehidupan berbagai macam makhluk hidup. Rawa-rawa juga disebut "pembersih alamiah", karena rawa-rawa itu berfungsi untuk mencegah polusi atau pencemaran lingkungan alam. Dengan alasan itu, rawa-rawa memiliki nilai tinggi dalam segi ekonomi, budaya, lingkungan hidup dan lain-lain, sehingga lingkungan rawa harus tetap dijaga kelestariannya.
Rawa Pening ("pening" berasal dari "bening") adalah danau sekaligus tempat wisata air di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dengan luas 2.670 hektareia menempati wilayah kecamatan Ambarawa, Bawen, Tuntang, dan Banyubiru. Rawa Pening terletak di cekungan terendah lereng Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran.
Danau ini mengalami pendangkalan yang pesat. Pernah menjadi tempat mencari ikan, kini hampir seluruh permukaan rawa ini tertutup eceng gondok. Gulma ini juga sudah menutupi Sungai Tuntang, terutama di bagian hulu. Usaha mengatasi spesies invasif ini dilakukan dengan melakukan pembersihan serta pelatihan pemanfaatan eceng gondok dalam kerajinan, namun tekanan populasi tumbuhan ini sangat tinggi.
Menurut legenda, Rawa Pening terbentuk dari muntahan air yang mengalir dari bekas cabutan lidi yang dilakukan oleh Baru Klinthing. Cerita Baru Klinthing yang berubah menjadi anak kecil yang penuh luka dan berbau amis sehingga tidak diterima masyarakat dan akhirnya ditolong janda tua ini sudah berlalu. Rawa ini digemari sebagai obyek wisata pemancingan dan sarana olahraga air. Namun akhir-akhir ini, perahu nelayan bergerak pun sulit.

2.3   Mangrove
Di sebut juga hutan pantai. Hutan pasang surut air laut, Hutan payau, atau Hutan bakau.Merupakan tipe hutan tropika yang khas tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.Hutan ini terdapat di di Pulau sumatra ,kalimantan ,jawa dan irian jaya.Hutan ini dapat hidup dengan subur klau wilayah pesisir tersebut memenuhi syarat-syarat berikut:
a. Terlindung dari gemuran ombak dan arus pasang surut air lautyang kuat
            b.   Daerahnya datar
c.   Memilki muara sungai yang besar
d.   Kadar garam air laut antara 10-30 per mil

Hutan mangrove merupakan ekosistem yang sangat penting di wilayah pesisir sebab memiliki fungsi ekologis dan fungsi ekonomis ,sebagai berikut contoh ekologi;
a.Penahan abrasi
b. Penyerap limbah
c.Pencegah intrusi laut

Contoh ekonomis ;
a. Bahan bakar, bahan kertas, bahan bangunan
b. Perabot rumah tangga
c.Bahan penyamak kulit dan pupuk hijau

 2.4    Ekosistem Air Tawar
Ekosistem air tawar memiliki ciri ciri antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Hampir semua golongan tumbuhan terdapat pada ekosistem air tawar, tumbuhan tingkat tinggi (Dikotil dan Monokotil), tumbuhan tingkat rendah (jamur, ganggang biru, ganggang hijau) dan Hampir semua filum dari dunia hewan terdapat pada ekosistem air tawar, misalnya protozoa, spans, cacing, molluska, serangga, ikan, amfibi, reptilia, burung, mammalia. Ada yang selalu hidup di air, ada pula yang ke air bila mencari makanan saja. Hewan yang selalu hidup di air mempunyai cara beradaptasi dengan lingkungan yang berkadar garam rendah. Pada ikan dimana kadar garam protoplasmanya lebih tinggi daripada air, mempunyai cara beradaptasi sebagai berikut:
- Sedikit minum, sebab air masuk ke dalam tubah secara terus-menerus melalui proses osmosis.
- Garam dari dalam air diabsorbsi melalui insang secara aktif
-Air diekskresikan melalui ginjal secara berlebihan, juga diekskresikan melalui insang dan  
  saluran pencernaan.

2.4.1  Lentik
Ekosistem air tawar lentik : airnya tidak berarus, ini berarti airnya tidak mengalir. Contohnya : Danau, rawa air tawar, kolam, rawa gambut, pasir terapung dibedakan menjadi 3 zona,
a)      Zona litoral/daerah tepi
b)      Zona limnetik/terbuka atau dapat ditembus oleh mataharii
c)      Zona propundal/peraran dalam tidak dapat menembus.
  
.  

         







Gambar. 2 Hutan Rawa Gambut              Gambar. 3 Danau Toba

2.4.2 Lotik
Ekosistem air tawar Lotik : airnya berarus, berarti airnya senantiasa mengalir. Contoh dari ekosistem air tawar lotik sering kita jumpai di sekitar kita. Misalnya : Sungai, dan selokan.

2.5  Ekosistem Air Laut
2.5.1  Pantai karang
2.5.2  Pantai Berpasir
KARAKTERISTIK
·         Kebanyakan terdiri dari kwarsa dan feldspar, bagian yang paling banyak dan paling keras sisa-sisa pelapukan batu di gunung.
·         Dibatasi hanya di daerah dimana gerakan air yang kuat mengangkut partikel-partikel yang halus dan ringan.
·         Total bahan organik dan organisme hidup di pantai yang berpasir jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jenis pantai lainnya.
·         Pantai berpasir didominasi oleh 3 kelas invertebrate : - Cacing polikaeta
 - Moluska bivalvia
  -  Rustasea
FUNGSI
·         Tempat beberapa biota meletakkan telurnya
·         Tidak dapat menahan air dengan baik karena sedimennya yang kasar akibatnya lapisan permukannya menjadi kering sampai sedalam beberapa cm di bagian atas pantai yang terbuka terhadap matahari pada saat pasang surut.
2.5.3 Pantai Berlumpur
2.6    Eustuaria
Estuaria adalah perairan muara sungai semi tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Estuaria dapat terjadi pada lembah-lembah sungai yang tergenang air laut, baik karena permukaan laut yang naik (misalnya pada zaman es mencair) atau pun karena turunnya sebagian daratan oleh sebab-sebab tektonis. Estuaria juga dapat terbentuk pada muara-muara sungai yang sebagian terlindungi oleh beting pasir atau lumpur.
Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang bervariasi, antara lain:
(1) Tempat bertemunya arus air tawar dengan arus pasang-surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisika lainnya, serta membawa pengaruh besar pada biotanya;
(2) Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai maupun sifat air laut;
(3) Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan lingkungan sekelilingnya; dan
(4) Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta topografi daerah estuaria tersebut.
Sifat-sifat Ekologis
Sebagai tempat pertemuan air laut dan air tawar, salinitas di estuaria sangat bervariasi. Baik menurut lokasinya di estuaria, ataupun menurut waktu. Secara umum salinitas yang tertinggi berada pada bagian luar, yakni pada batas wilayah estuaria dengan laut, sementara yang terendah berada pada tempat-tempat di mana air tawar masuk ke estuaria. Pada garis vertikal, umumnya salinitas di lapisan atas kolom air lebih rendah daripada salinitas air di lapisan bawahnya. Ini disebabkan karena air tawar cenderung ‘terapung’ di atas air laut yang lebih berat oleh kandungan garam. Kondisi ini disebut ‘estuaria positif’ atau ‘estuaria baji garam’ (salt wedge estuary) (Nybakken, 1988). Akan tetapi ada pula estuaria yang memiliki kondisi berkebalikan, dan karenanya dinamai ‘estuaria negatif’. Misalnya pada estuaria-estuaria yang aliran air tawarnya sangat rendah, seperti di daerah gurun pada musim kemarau. Laju penguapan air di permukaan, yang lebih tinggi daripada laju masuknya air tawar ke estuaria, menjadikan air permukaan dekat mulut sungai lebih tinggi kadar garamnya. Air yang hipersalin itu kemudian tenggelam dan mengalir ke arah laut di bawah permukaan. Dengan demikian gradien salinitas airnya berbentuk kebalikan daripada ‘estuaria positif’.
Dalam pada itu, dinamika pasang surut air laut sangat mempengaruhi perubahan-perubahan salinitas dan pola persebarannya di estuaria. Pola ini juga ditentukan oleh geomorfologi dasar estuaria. Sementara perubahan-perubahan salinitas di kolom air dapat berlangsung cepat dan dinamis, salinitas substrat di dasar estuaria berubah dengan sangat lambat. Substrat estuaria umumnya berupa lumpur atau pasir berlumpur, yang berasal dari sedimen yang terbawa aliran air, baik dari darat maupun dari laut. Sebabnya adalah karena pertukaran partikel garam dan air yang terjebak di antara partikel-partikel sedimen, dengan yang berada pada kolom air di atasnya berlangsung dengan lamban.
Biota Estuaria
Sebagai wilayah peralihan atau percampuran, estuaria memiliki tiga komponen biota, yakni fauna yang berasal dari lautan, fauna perairan tawar, dan fauna khas estuaria atau air payau. Fauna lautan yang tidak mampu mentolerir perubahan-perubahan salinitas yang ekstrem biasanya hanya dijumpai terbatas di sekitar perbatasan dengan laut terbuka, di mana salinitas airnya masih berkisar di atas 30‰. Sebagian fauna lautan yang toleran (eurihalin) mampu masuk lebih jauh ke dalam estuaria, di mana salinitas mungkin turun hingga 15‰ atau kurang. Sebaliknya fauna perairan tawar umumnya tidak mampu mentolerir salinitas di atas 5‰, sehingga penyebarannya terbatas berada di bagian hulu dari estuaria.
Fauna khas estuaria adalah hewan-hewan yang dapat mentolerir kadar garam antara 5-30‰, namun tidak ditemukan pada wilayah-wilayah yang sepenuhnya berair tawar atau berair laut. Di antaranya terdapat beberapa jenis tiram dan kerang (Ostrea, Scrobicularia), siput kecil Hydrobia, udang Palaemonetes, dan cacing polikaeta Nereis.Di samping itu terdapat pula fauna-fauna yang tergolong peralihan, yang berada di estuaria untuk sementara waktu saja. Beberapa jenis udang Penaeus, misalnya, menghabiskan masa juvenilnya di sekitar estuaria, untuk kemudian pergi ke laut ketika dewasa. Jenis-jenis sidat (Anguilla) dan ikan salem (Salmo, Onchorhynchus) tinggal sementara waktu di estuaria dalam perjalanannya dari hulu sungai ke laut, atau sebaliknya, untuk memijah. Dan banyak jenis hewan lain, dari golongan ikan, reptil, burung dan lain-lain, yang datang ke estuaria untuk mencari makanan (Nybakken, 1988).
Akan tetapi sesungguhnya, dari segi jumlah spesies, fauna khas estuaria adalah sangat sedikit apabila dibandingkan dengan keragaman fauna pada ekosistem-ekosistem lain yang berdekatan. Umpamanya dengan fauna khas sungai, hutan bakau atau padang lamun, yang mungkin berdampingan letaknya dengan estuaria. Para ahli menduga bahwa fluktuasi kondisi lingkungan, terutama salinitas, dan sedikitnya keragaman topografi yang hanya menyediakan sedikit relung (niche), yang bertanggung jawab terhadap terbatasnya fauna khas setempat.
Peranan Ekosistem Estuaria
Produktifitas estuaria, pada kenyataannya bertumpu atas bahan-bahan organik yang terbawa masuk estuaria melalui aliran sungai atau arus pasang surut air laut. Produktifitas primernya sendiri, karena sifat-sifat dinamika estuaria sebagaimana telah diterangkan di atas dan karena kekeruhan airnya yang berlumpur, hanya dihasilkan secara terbatas oleh sedikit jenis alga, rumput laut, diatom bentik dan fitoplankton.
Meski demikian, bahan-bahan organik dalam rupa detritus yang terendapkan di estuaria membentuk substrat yang penting bagi tumbuhnya alga dan bakteri, yang kemudian menjadi sumber makanan bagi tingkat-tingkat trofik di atasnya. Banyaknya bahan-bahan organik ini dibandingkan oleh Odum dan de la Cruz (1967, dalam Nybakken 1988) yang mendapatkan bahwa air drainase estuaria mengandung sampai 110 mg berat kering bahan organik per liter, sementara perairan laut terbuka hanya mengandung bahan yang sama 1-3 mg per liter.
Oleh sebab itu, organisme terbanyak di estuaria adalah para pemakan detritus, yang sesungguhnya bukan menguraikan bahan organik menjadi unsur hara, melainkan kebanyakan mencerna bakteri dan jasad renik lain yang tercampur bersama detritus itu. Pada gilirannya, para pemakan detritus berupa cacing, siput dan aneka kerang akan dimakan oleh udang dan ikan, yang selanjutnya akan menjadi mangsa tingkat trofik di atasnya seperti ikan-ikan pemangsa dan burung.
Melihat banyaknya jenis hewan yang sifatnya hidup sementara di estuaria, bisa disimpulkan bahwa rantai makanan dan rantai energi di estuaria cenderung bersifat terbuka. Dengan pangkal pemasukan dari serpih-serpih bahan organik yang terutama berasal dari daratan (sungai, rawa asin, hutan bakau), dan banyak yang berakhir pada ikan-ikan atau burung yang kemudian membawa pergi energi keluar dari sistem.
2.7 Terumbu Karang
Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem pantai yang cukup banyak diminati di dunia ini tidak hanya karena keindahannya (yang membuat harganya tinggi sehingga banyak yang diambil secara paksa dari laut) tapi juga karena keunikkannya. Di Indonesia ini nilai total terumbu karang dapat dibilang tak ternilai karena wilayahnya yang luas (60.000 km2).
Dalam prakteknya, terumbu karang dapat kita bedakan menjadi 2 menurut manfaatnya, yaitu manfaat langsung (dipanen, tempat bertelur ikan, dsb.) dan manfaat tidak langsung (menahan abrasi pantai). Berdasarkan bentuk dan hubungan perbatasan tumbuhnya terumbu karang dengan daratan (land masses) terdapat tiga klasifikasi terumbu karang atau yang sampai sekarang masih secara luas dipergunakan, yaitu : Terumbu Reef (Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan moluska. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir. Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batu karang atau pasir di dekat permukaan air.) Karang Coral (Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Hewan karang tunggal umumnya disebut polip.)
Karang Terumbu (Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang lunak, berbeda dengan batu karang (rock), yang merupakan benda mati.) Terumbu karang juga dapat kita bedakan menjadi 4 jenis, yaitu
(1)Terumbu Karang Tepi (fringing reefs) (2 )Terumbu Karang Penghalang (barrier reefs) (3) Terumbu Karang Cincin (Atolls) (4) Terumbu Karang Datar/Gosong Terumbu (patch reefs). Untuk daerah persebarannya, terumbu karang di Indonesia dapat kita temukan dari kawasan barat indonesia hingga kawasan timur sana.

2.8 Ekosistem
            Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.
            Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga memengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Pengertian ini didasarkan pada Hipotesis Gaia, yaitu: "organisme, khususnya mikroorganisme, bersama-sama dengan lingkungan fisik menghasilkan suatu sistem kontrol yang menjaga keadaan di bumi cocok untuk kehidupan. Hal ini mengarah pada kenyataan bahwa kandungan kimia atmosfer dan bumi sangat terkendali dan sangat berbeda dengan planet lain dalam tata surya.

2.8.1 Ekosistem Laut Pelapis
2.8.2 Ekosistem Laut Dalam
Laut dalam merupakan daerah yang tidak pernah diungkapkan dan dijelajahi. Orang banyak mengeksplorasi ke luar angkasa dari pada ke bawah laut. Itulah sebabnya banyak yang tidak mengetahui keajaiban-keajaiban yang ada dilaut. Kedalaman 300 meter yang ada pada laut merupakan daerah yang tidak dapat tertembus oleh sinar matahari, sehingga suasana pada kedalaman tersebut adalah gelap, kemudian pada kedalaman tersebut tekananb ertambah dan suhu airpun menurun. Zona yang demikian disebut “Twilight Zone”. Pada zona ini semua hewan laut terlihat transparan atau tembus pandang, hal tersebut merupakan sebuah mekanisme bertahan hidup makhluk-makhluk laut agar tidak dengan mudah dimangsa. Oleh sebab itulah pada “Twilight Zone” sebisa mungkin hewan-hewan laut untuk tidak terlihat, terutama oleh pemangsa. Contoh dari hewan-hewan laut yang mampu hidup pada zona ini adalah Phronima, Cumi-cumi, Amoeba, Comb Jelly, Cope pod, dan ikan Hatchet.
            
Dalam ekosistem dasar laut sebisa mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan agar dapat bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini dilengkapi keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan mangsa, seperti Ikan Fang Tooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi sehingga ketika ada mangsa yang lewat didepannya ia langsung dapat dengan cepat memakannya, karena memang tidak banyak hewan laut yang mampu hidup dalam ekosistem ini. Kemudian contoh lainnya adalah Ikan Hairyangler yang tubuhnya dipenuhi dengan atena sensitif, antena tersebut sangat sensitif sekali terhadap setiap gerakan, fungsinya untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya.
Di laut dalam sering terlihat cahaya yang berkedip-kedip, cahaya tersebut adalah Bioluminescence. 

Bioluminescence adalah cahaya yang dapat dihasilkan oleh beberapa hewan laut, cahaya tersebut berasal dari bakteri yang hidup secara permanen didalam sebuah perangkap. Bioluminescence digunakan oleh hewan laut dalam sebagai alat perangkap atau alat untuk menarik mangsa, kurang lebih bioluminescence berfungsi sebagai umpan. Pada umumnya bioluminescence dimiliki oleh setiap hewan laut dalam, baik betina maupun jantan. Namun beberapa diantaranya ada yang hanya dimiliki oleh hewan laut betina. Cahaya bioluminescence yang dihasilkan biasa berwarna biru atau kehijauan, putih, dan merah. Walau sebagian besar bioluminescence digunakan untuk mekanisme bertahan hidup, namun beberapa diantara hewan laut dalam tersebut menggunakan bioluminescence untuk menarik lawan jenisnya.
Walau nyaris tidak tergantung dengan sinar matahari, namun siklus harian matahari sangat mempengaruhi keadaan laut dalam, seribu juta ton makhluk hidup naik ke air dangkal setiap malam, kemudian setiap fajar mereka kembali ke laut dalam yang lebih aman dari predator. Kehidupan makhluk laut yang memerlukan fotosentesis untuk dapat mendapatkan energi pada umumnya berada pada kedalaman diatas 100 m, sebab pada kedalaman lebih dari 100 m tidak ada lagi proses fotosintesis karena sinar matahari tak mampu menembus sampai kedalaman ini. Pada kedalaman ribuan meter di laut suhu air turun hingga dibawah 4 centigrade dan tekanan dapat mencapai 100 kali lipat dari permukaan. Walau dengan keadaan yang sangat ekstrim tersebut, di laut dalam tetap ada kehidupan, hewan laut yang mampu hidup pada kedalaman tersebut adalah Echinoderms, Sea Cucumbers, Brittle stars, dan Sea urchins.
Batuan di dalam laut berfungsi sebagai jangkar bagi hewan yang mengguntung hidup pada makanan yang lewat. Misalnya, Crinoids atau lebih dikenal dengan nama Bunga Lili Laut sebab hewan ini kelihatan seperti tumbuhan yang lengkap dengan daun dan tangkai, namun sebenarnya Crinoids merupakan jenis hewan.
Ditemukan koral dikedalaman 2000 m di perairan dingin di teluk Norwegia, tingginya 30 m dan panjangnya 200 m. Untuk bertahan hidup koral tersebut harus mampu menangkap makanan dengan efisien sebab matahari tidak dapat masuk pada kedalaman 2000 m sehingga koral tersebut tidak dapat memperoleh energi dari sinar matahari. Bukan hanya koral yang mampu hidup dikedalaman ini, hewan laut seperti hiu pun mampu hidup bahkan sampai kedalaman 2500 m. Makanan mereka pada kedalaman ini adalah berupa fosil atau bangkai hewan laut, seperti Hiu.

·         .Zona Afotik
Tepat ditengah lautan dalam terbaring suatu struktur geologi terbesar planet kita yaitu pegunungan ditengah laut. Dengan ketinggian 2 mil diatas dasar laut, membentang sejauh lebih 28 ribu mil.

Terdapat cerobong yang mengeluarkan air panas yang dapat melelehkan, artinya ada aktivitas vulkanisme di kedalaman ini. Jika dipermukaan 100o Centigrade, maka dibawah laut air akan tetap cair pada suhu 400o centigrade. Pada keadaan ini air dipenuhi dengan kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) yang beracun. Walau keadaan yang demikian terdapat penghuni dicerobong tersebut yaitu Puly Chaek yang terdapat pada suhu 80o centigrade. Tidak ada hewan yang lain yang bisa hidup pada suhu dan tekanan tinggi, sehingga para ilmuwan menyebutnya cacing pompeii. Dicerobong lain dipenuhi komunitas dari beberapa organisme, bagian bawah dari lubangnya dipenuhi oleh kerang besar,kemudian kepiting putih, yang menajubkan ada cacing berwarna merah yang memenuhi bagian dari cerobong tersebut dengan panjang masing-masing 2 m dan lebar 4 cm. Didalam tubuh mereka terdapat bakteri yang mampu menyerap energi dari sulfida yang keluar dari cerobong. Koloni bakteri ini adalah sumber energi utama setiap makhluk hidup disini. Bakteri dan mikroba lainnya adalah inti dari rantai makanan yang diperlukan oleh lebih dari 500 spesies. Bagian teratas dari rantai makanan ada ikan yang tidak pernah bergerak jauh dari lubang itu.
Selain dengan sulfida ada yang menggunakan sumber energi lain yaitu dengan menggunakan gas Metan (CH4). Dan sekali lagi hewan yang ada didasar laut tersebut mengandung bakteri khusus yang mampu mengolah energi dari gas metan ini. Hewan laut yang hidup di ekosistem ini adalah udang, lobster, cacing polychaete merah, dan kerang.


Perbandingan Dengan Ekosistem Dasar Laut di Perairan Laut Sulawesi Utara

            Jika dibandingkan antara ekosistem laut dalam yang dijelaskan di Film Blue Planet dengan ekosistem laut dalam yang ada di perairan laut Sulawesi Utara, maka kurang lebih dua ekosistem tersebut memiliki banyak persamaan. Persamaan diantaranya adalah adanya Gunung Api bawah laut, kemudian beberapa jenis hewan lautnya. Seperti cacing yang berwarna merah dan kerang laut yang hidupnya tergantung dengan kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) ataupun gas Metan (CH4), seperti yang tampak pada gambar diatas yang membandingkan ekosistem laut dalam yang ada di Film Blue Planet (gambar atas) dengan ekosistem laut dalam yang ada di perairan laut Sulawesi Utara (gambar bawah), tepatnya di Laut Sangihe Talaud yang merupakan wilayah atau zona Segitiga Terumbu Karang.


Segitiga Terumbu Karang adalah ekosistem laut yang paling beragam dan dari segi biologi paling rumit di planet ini. Ini mencakup sebagian wilayahIndonesia, Malaysia, Filipina, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste. Dengan luas 5,7 juta km2, hampir setara dengan luasnya 48 negara bagian AS tanpa Alaska dan Hawaii. Hal ini setanding dengan kekayaan dan keragaman dan kelebatan hutan di Amazon. Segitiga Terumbu Karang juga dihuni oleh lebih dari 600 spesies karang pembentuk-terumbu (75% sudah dikenal ilmu pengetahuan), 3000 spesies ikan terumbu karang (40% spesies terumbu karang yang ada di dunia), 6 dari 7 spesies penyu laut di dunia, dan tiga perempat Moluska atau hewan laut bertulang lunak seperti tripang, tiram, ubur-ubur, cumi-cumi dan lain.
Lokasi ekosistem laut dalam (deep sea) di Laut Sangihe Talaud, Sulawesi Utara dan letak
 segitiga terumbu karang di Indonesia


2.9 Bentos
Salah satu kelompok organisme penyusun ekosistem laut adalah bentos. Bentos istilah berasal dari Yunani untuk “kedalaman laut”. Bentos adalah organisme yang hidup di dasar laut dengan melekatkan diri pada substrat atau membenamkan diri di dalam sedimen. Mereka tinggal di atau dekat sedimen laut lingkungan, dari kolam pasang surut di sepanjang tepi pantai, ke benua rak, dan kemudian turun ke kedalaman abyssal. Daerah terkaya akan jumlah dan macam organisme pada sistem muara-laut ialah daerah bentik, yang terbentang dari pasang naik sampai suatu kedalaman di tempat tanaman sudah jarang tumbuh.
Tubuh bentos banyak mengandung mineral kapur. Batu-batu karang yang biasa kita lihat di pantai merupakan sisa-sisa rumah atau kerangka bentos. Jika timbunannya sangat banyak rumah-rumah binatang karang ini akan membentuk Gosong Karang, yaitu dataran di pantai yang terdiri dari batu karang. Selain Gosong Karang ada juga Atol, yaitu pulau karang yang berbentuk cincin atau bulan sabit. Batu-batu karang yang dihasilkan oleh bentos dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, rekreasi, sebagai bahan bangunan dan lain-lain. Sedangkan zat kimia yang terkandung dalam tubuh bentos bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan obat dan kosmetika.Benthic organisme, seperti bintang laut, kerang, kerang, teripang, bintang rapuh dan anemon laut, memainkan peran penting sebagai sumber makanan bagi ikan dan manusia.
Klasifikasi benthos menurut ukurannya : Makrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih besar dari 1 mm (0.04 inch), contohnya cacing, pelecypod, anthozoa, echinodermata, sponge, ascidian, and crustacea. Meiobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran antara 0.1 – 1 mm, contohnya polychaete, pelecypoda, copepoda, ostracoda, cumaceans, nematoda, turbellaria, dan foraminifera. Mikrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0.1 mm, contohnya bacteri, diatom, ciliata, amoeba, dan flagellata.
Berdasarkan morfologi dan cara makannya, benthos dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu (1) benthos pemakan deposit yang selektif (selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang sempit; (2) benthos pemakan deposit yang tidak selektif (non-selective deposit feeders) dengan bentuk morfologi mulut yang lebar; (3) benthos pemakan alga (herbivorous feeders); dan (4) benthos omnivora/predator (Heip et al. 1985; Gwyther & Fairweather 2002).
              Sumber makanan utama bagi bentos adalah plankton dan organik air hujan dari daratan (sungai). Aktivitas manusia di Daerah Aliran Sungai sangat erat kaitannya dengan pemanfaatan air sungai di daerah pemukiman, industri, dan irigasi pertanian. Bahan pencemar yang berasal baik dari aktifitas perkotaan (domestik), industri, pertanian dan sebagainya yang terbawa bersama aliran permukaan (run off), langsung ataupun tidak langsung akan menyebabkan terjadinya gangguan dan perubahan kualitas fisik, kimia dan biologi pada perairan sungai tersebut yang pada akhirnya menimbulkan pencemaran. Dimana pencemaran pada badan air selalu berarti turunnya kualitas dan air sampai ke tingkat tertentu akan menyebabkan air dan tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya. Wilayah perairan merupakan media yang rentan terhadap pencemaran.
Gaufin dalam Wilhm (1975) mengelompokkan spesies makrozoobentos berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan organik, yaitu kelompok intoleran, fakultatif dan toleran.  Organisme intoleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya organik.  Organisme ini tidak dapat beradaptasi bila kondisi perairan mengalami penurunan kualitas.  Organisme fakultatif yaitu organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi ling-kungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran.  Walaupun organisme ini dapat bertahan hidup di perairan yang banyak bahan organik, namun tidak dapat mentolerir tekanan lingkungan.  Organisme toleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai di perairan yang berkualitas jelek.  Pada umumnya organisme tersebut tidak peka terhadap berbagai tekanan lingkungan dan kelimpahannya dapat bertambah di perairan yang tercemar oleh bahan organik.  Jumlah organisme intoleran, fakultatif dan toleran dapat menunjukkan derajat pencemaran.
2.9.1 Bentos Beting Benua
Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sisa organisme mati.  Daerah ini merupakan daerah dasar danau tempat terdapatnya bentos dan sisa-sia organisme mati.
Gbr. Empat Daerah Utama Pada Danau Air Tawar
Danau juga dapat dikelompokkan berdasarkan produksi materi organiknya, yaitu sebagai berikut:
a. Danau Oligotropik Oligotropik merupakan sebutan untuk danau yang dalam dan kekurangan makanan, karena fitoplankton di daerah limnetik tidakproduktif. Ciricirinya, airnya jernih sekali, dihuni oleh sedikit organisme, dan di dasar air banyak terdapat oksigen sepanjang tahun.
b. Danau EutropikEutropik merupakan sebutan untuk danau yang dangkal dan kaya akan
kandungan makanan, karena fitoplankton sangat produktif. Ciri-cirinya adalah airnya keruh, terdapat bermacam-macam organisme, dan oksigen terdapat di daerah profundal.
            Danau oligotrofik dapat berkembang menjadi danau eutrofik akibat adanya materi-materi organik yang masuk dan endapan. Perubahan ini juga dapat dipercepat oleh aktivitas manusia, misalnya dari sisa-sisa pupuk buatan pertanian dan timbunan sampah kota yang memperkaya danau dengan buangan sejumlah nitrogen dan fosfor. Akibatnya terjadi peledakan populasi ganggang atau blooming, sehingga terjadi produksi detritus yang berlebihan yang akhirnya menghabiskan suplai oksigen di danau tersebut. Pengkayaan danau seperti ini disebut "eutrofikasi". Eutrofikasi membuat air tidak dapat digunakan lagi dan mengurangi nilai keindahan danau.

2.9.2 Bentos Laut Dalam

            Bentos merupakan sebuah organisme yang tinggal di dalam, atau di dasar laut, dikenal sebagai zona bentik. Mereka tinggal di dekat laut atau endapan lingkungan, dari pasang surut di sepanjang tepi kolam, dan kemudian ke bawah abisal pada kedalaman.Karena cahaya tidak menembus ke dalam laut, sumber energi yang mendalam untuk ekosistem bentik memiliki organik yang lebih tinggi dari pada air bawah kolom yang masuk ke kedalaman.

  
BAB  III  KESIMPULAN

Ekosistem akuatik terbagi menjadi air tawar dan asin. Pada ekosistem air tawar dibagimenjadi habitat lentik dan lotik. Pada habitat lentik, terbagi menjadi zona littoral, limnetik, danprofundal. Di dalam ekosistem tersebut, terdapat berbagai jenis fitopankton dan zooplankton yang  berturut-turut berfungsi sebagai produsen (trofik 1) dan herbivore (trofik 2). Terdapat pula nekton yangberfungsi sebagai karnivora (trofik 3). Keberadaan komponen-komponen ini dipengaruhi oleh faktor-faktor angin, unsur hara, kedalaman perairan, aktivitas pemangsaan, dan suhu




Daftar Pustaka
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut: suatu pendekatan ekologis. Alih bahasa H. Muh. Eidman dkk. Penerbit Gramedia. Jakarta.

http://pkukmweb.ukm.my/~ahmad/kuliah/ekoair/ekoair.pdf

http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/0034%20Bio%201-7e.htm

KOMUNITAS (VEGETASI)

BAB I
PENDAHULUAN
   
 1 1.1              Latar belakang
Dalam berbagai kegiatan pembangunan negara serta bangsa Indonesia tampak bahwa ekologi sebagai ilmu sekarang ini konsepnya sudah banyak diterapkan, misalnya konsep pelestarian segala macam sumber daya alam, konsep perlindungan plasma nutfah, pengendalian kelahiran dalam program keluarga berencana pada populasi manusia, konsep penanganan ekosistem, hasil maksimal yang berkelanjutan, konsep penanganan permasalahan daerah liran sungai, konsep perlindungan terhadap ekosistem mangrove, dan lain sebagainya. Konsep ekologi berperan demikian penting pada masa sekarang, sehingga konsep serta dasar ekologi perlu ditunjukkan sedini mungkin serta disebarluaskan ke segenap lapisan masyarakat.
Ekologi sebagian besar berkepentingan dengan populasi dan komunitas. Populasi dalam ekologi, aslinya diartikan sebagai kelompok orang, lalu diperluas menjadi kelompok-kelompok makhluk yang manapun. Dengan istilah Komunitas (kadang-kadang disebut sebagai “komunitas biotik”), dimaksudkan meliputi semua populasi yang berdiam di suatu daerah tertentu. Komunitas dengan lingkungan non-hayati berfungsi bersama sebagai suatu sistem ekologik atau ekosistem. Sistem biologik yang paling besar dan hampir dapat memenuhi kebutuhan sendiri disebut biosfer atau ekosfer. Gen merupakan anasir sel, sel menyusun jaringan, jaringan menyusun organ, organ menyusun organisme, organisme menyusun populasi, populasi merupakan anasir komunitas, komunitas menyusun ekosistem, dan ekosistem menyusun biosfer.
Di alam jarang sekali ditemukan kehidupan yang secara individu terisolasi, biasanya suatu kehidupan lebih suka mengelompok atau membentuk koloni. Kumpulan berbagai jenis organisme disebut komunitas biotik yang terdiri atas komunitas tumbuhan (vegetasi), komunitas hewan dan komunitas jasad renik. Ketiga macam komunitas itu berhubungan erat dan saling  bergantung. Dalam makalah ini dibahas tentang komunitas (vegetasi) untuk member membantu memecahkan berbagai macam persoalan ekologi di laboratorium dan di lapangan atau di alam sesungguhnya.


    1.2         Rumusan Masalah
a)      Apa pengertian dari komunitas (vegetasi)?
b)      Bagaimana konsep dasar komunitas (vegetasi) itu?
c)      Apa saja tipe-tipe vegetasi dalam ekologi tumbuhan ?
d)     Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan adanya persebaran vegetasi hutan ?
e)      Bagaimana interaksi yang terjadi dalam suatu komunitas?
f)       Bagaimana karakteristik komunitas tumbuhan dari segi keanekaragaman, struktur dan komposisi komunitas serta dominasi?
    1.3         Tujuan
a)      Mengetahui pengertian dari komunitas (vegetasi)
b)      Mengetahui konsep dasar suatu komunitas (vegetasi)
c)      Mengetahui tipe-tipe vegetasi dalam ekologi tumbuhan
d)     Mengetahui faktor yang menyebabkan adanya persebaran vegetasi hutan
e)      Mengetahui interaksi yang terjadi dalam suatu komunitas
f)       Mengetahui karakteristik tumbuhan  dari segi keanekaragaman, struktur dan komposisi komunitas serta dominasi

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Komunitas (Vegetasi)
Komunitas ialah kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organisme merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
Vegetasi di definisikan sebagai mosaik komunitas tumbuhan dalam lansekap dan vegetasi alami diartikan sebagai vegetasi yang terdapat dalam lansekep yang belum dipengaruhi oleh manusia (Kuchler, 1967). Ilmu vegetasi sudah dimulai hampir tiga abad yang lalu. Mula-mula kegiatan utama yang dilakukan lebih diarahkan pada diskripsi dari tentang alam dan vegetasinya.

2.2  Konsep dasar Komunitas
2.2.1      Formasi
            Menurut Clements unit vegetasi terbesar adalah formasi tumbuhan. Formasi tumbuhan merupakan unit vegetasi yang besar di suatu wilayah yang ditunjukkan oleh beberapa bentuk pertumbuhan yang dominan, misalnya hutan ditunjukkan dengan pohon-pohon. Formasi tumbuhan merupakan hasil makroklimat dan ini dikendalikan dan ditentukan batasnya oleh iklim saja. Dengan lain perkataan formasi tumbuhan terjadi dalam suatu kesatuan iklim dan alam.
             Whittaker berpendapat bahwa formasi tumbuhan tidak tegas dan nyata bahwa unit vegetasi ditentukan hanya oleh iklim, tetapi merupakan pengelompokkan komunitas secara abstrak dengan fisiognomi dan saling berhubungan dengan lingkungan.
2.2.2        Assosiasi
             Setiap formasi klimaks, berisikan dua atau lebih pembagian yang lebih kecil yang dikatakan sebagai assosiasi yang ditandai oleh lebih dari satu spesies yang dominan dan khas. Jadi assosiasi adalah vegetasi regional, dalam formasi ini merupakan klimaks sub iklim dalam formasi umum. Setiap assosiasi ekologinya dan komposisi floristik umumnya (Weaver dan Clements, 1938). Sekarang konsep assosiasi ini sudah tidak dipakai lagi dan menempatkan komunitas kontinum yang populer.
             Vegetasi itu terus menerus (kontinyu) walaupun berbeda dari tempat yang satu ke tempat yang lain ia tidak dapat dikategorikan kedalam unit-unit yang memilih tempat. Dalam tingkat penggantian (proses penggantian), Whittaker (1951, 1956) mengatakan bahwa assosiasi bukan komunitas alam yang nyata (konkrit). L.E. Braun juga mengeritik konsep assosiasi dalam simposium yang diadakan oleh perhimpunan ekologi Amerika bulan Agustus 1956 yang tujuan utama ialah:
a)    Bahwa komuntas tidak mempunyai batas yang tegas tetapi tumpang tindih  antarasatu dengan yang lain.
b)    Bahwa spesies yang nampak mencirikan komunitas dapat meluas ke komunitas lain walaupun mungkin dalam proporsi yang berbeda.
c)    Bahwa dua komunitas tidak pasti sama/sejenis.
d)   Bahwa vegetasi itu kontinyu walaupun berbeda dari tempat yang satu ke yang lain.
2.2.3        Ekotone
             Suatu ekoton adalah suatu zona (daerah) peralihan (transisi) atau pertemuan  antara dua komunitas yang berbeda dan menunjukkan sifat yang khas. Daerah transisi antara komunitas rumput dan hutan atau daerah peralihan antara dua komunitas besar seperti komunitas akuatik dan komunitas terestrial merupakan contoh ekoton.
             Jadi ekoton merupakan pagar komunitas (batas komunitas). Seperti diketahui biasanya berubah secara perlahan-lahan atau secara gradient. Komunitas dapat berubah secara tiba-tiba sebagai akibat lingkungan yang tiba-tiba terputus atau karena interaksi tanaman terutama kompetisi. Pada keadaan yang pertama (tiba-tiba terputus) ekoton merupakan daerah peralihan yang merupakan campuran dari dua tipe komunitas yang bersebelahan.
             Pada keadaan yang kedua (kompetisi) ekoton dapat dikenal jelas. Komunitas ekoton umumnya mempunyai banyak organisme dari dua komunitas yang saling bertautan dan yang memperlihatkan ciri-ciri yang khas dan batas yang jelas antara ekoton dan tetangganya (disampingnya) dengan demikian ekoton berisikan spesies yang lebih banyak dan kepadatan populasi yang sering lebih daripada komunitas disampingnya.
            Kecenderungan meingkatnya variasi dan kepadatan pada komunitas peralihan dikenal sebagai efek pinggir/tepi (edge effect). Organisme yang paling banyak atau paling lama dalam zone peralihan disebut jenis pinggir (edge spesies).

2.3  Tipe-tipe vegetasi dalam ekologi tumbuhan
2.3.1   Vegetasi Hutan Hujan Tropis
Menurut Vickery (1984), hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe vegetasi hutan tertua yang telah menutupi banyak lahan, yang terdapat di daerah sekitar khatulistiwa yaitu antara garis 100 LU sampai dengan 100 LS. Hutan hujan tropis terbentuk oleh vegetasi klimaks pada daerah dengan curah hujan 2.000 – 4.000 mm per tahun, rata-rata temperature 250 C dengan perbedaan temperature yang kecil sepanjang tahun, dan rata-rata kelembaban udara 80%. Arief (1994) mengemukakan bahwa hutan hujan tropis adalah klimaks utama dari hutan-hutan di dataran rendah yang mempunyai tiga stratum tajuk, yaitu stratum A, B, dan C, atau bahkan memiliki lebih dari tiga stratum tajuk.
Stratifikasi tajuk dalam hutan hujan tropis dipisahkan oleh beberapa stratum antara lain:
Stratum A: Merupakan lapisan teratas terdiri dari pohon-pohon yang tingginya sekitar 80 meter ke atas, misalnya shorea sp. Di antaranya terdapat juga pohon yang rendah, tetapi umumnya tinggi pepohonan mencapai rata-rata 40-50 meter dan bertajuk tidak beraturan (diskontinu) sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang bersinambungan. Pepohonan tersebut umumnya mempunyai 3 atau 4 lapisan tajuk, batang yang tumbuh lurus, tinggi, serta batang bebas cabangnya cukup tinggi. Pada hutan stratum A ini banyak dijumpai liana-liana berbatang tebal, berkayu, bersifat herba.
Stratum B: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 18-­30 meter dengan tajuk yang beraturan (kontinu). Batang pohon umumnya bercabang dan batang bebas cabangnya yang tidak begitu tinggi. Jenis pohon pada stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran).
Stratum C: Terdiri dari pohon-pohon yang mempunyai tinggi 4-18 meter dan bertajuk kontinu. Pohon-pohon dalam stra­tum ini rendah, kecil dan banyak bercabang banyak. Lapisannya bersinambungan dan agak rapat.
Stratum D: Terdiri dari lapisan perdu dan semak yang mempunyai tinggi 1-4 meter. Termasuk di dalamnya adalah pohon­pohon muda, palma-palma kecil, herba besar dan paku­pakuan besar.
Stratum E: Terdiri dari lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah atau lapisan lapangan yang mempunyai tinggi 0-1 meter. Di daerah ini banyak dijumpai tanaman anak-anakan dan tumbuhan yang bersifat herba.
Tegakan hutan hujan tropis didominasi oleh pepohonan yang selalu hijau. Keanekaragaman spesies tumbuhan yang ada di hutan hujan tropis sangat tinggi sehingga dikenal sebagai hutan yang heterogen. Vickery (1984) menyatakan bahwa jumlah spesies pohon yang ditemukan dalam hutan hujan tropis lebih banyak dibandingkan dengan yang ditemukan pada tipe vegetasi yang lainnya. Misalnya, hutan hujan tropis di Amazonia mengandung spesies pohon dan semak sebanyak 240 spesies.
Tajuk pohon hutan hujan tropis sangat rapat, ditambah lagi adanya tetumbuhan yang merambat, menggantung, dan menempel pada dahan-dahan pohon, misalnya rotan, anggrek dan paku-pakuan. Hal ini menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus tajuk hutan hingga ke lantai hutan, sehingga tidak memungkinkan bagi semak untuk berkembang di bawah naungan tajuk pohon kecuali spesies tumbuhan yang telah beradaptasi dengan baik untuk tumbuh di bawah naungan (Arief, 1994).
Selain itu, ciri lain dari hutan hujan tropis yaitu kecepatan daur ulang sangat tinggi, sehingga semua komponen vegetasi hutan tidak mungkin kekurangan unsur hara (Vickery, 1984). Jadi, faktor pembatas di hutan hujan tropis adalah cahaya, dan itupun hanya berlaku bagi tetumbuhan yang terletak di lapisan bawah. Dengan demikian, herba dan semak yang ada dalam hutan adalah spesies-spesies yang telah beradaptasi secara baik untuk tumbuh di bawah naungan pohon.
Sebagaian besar hutan ini tumbuh di daerah lembah sungai Amazon (Brazilia), lembah sungai Kongo, India, Amerika Tengah (Florida), Karibia, dan wilayah Asia Tenggara Di Indonesia hutan hujan tropis terdapat di pulau Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Irian jaya (Papua).
Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut, hutan hujan tropis dibedakan menjadi tiga zona atau wilayah (Santoso, 1996; Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976) sebagai berikut :
1.     Zona Hutan Hujan Bawah
Terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 0 – 1.000 m dari permukaan laut. Terdapat banyak spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae terutama anggota genus Shorea, Dipterocarpus, Hopea, Vatica, Dryobalanops, anggota famili Lauraceae, Myrtaceae, Ebenaceae, serta pohon-pohon anggota genus Agathis, Koompasia, dan Dyera. Penyebarannya meliputi pulau-pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Irian, Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku.
2.      Zona Hutan Hujan Tengah
Terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 1.000 – 3.300 m dari permukaan laut. Secara umum, vegetasi hutan hujan tengah didominasi oleh genus Quercus, Castanopsis, Nothofagus dan spesies pohon anggota famili Magnoliaceae. Penyebarannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, Aceh, Sumatra Utara, dan sebagian daerah Indonesia Timur. Di beberapa daerah, tipe vegetasi hutan hujan tengah agak khas. Misalnya di Aceh dan Sumatra Utara terdapat spesies pohon Pinus merkusii, di Jawa Tengah terdapat spesies pohon Albizzia Montana dan Anaphalis javanica, di Jawa Timur terdapat spesies pohon Cassuarina sp.
3.      Zona Hutan Hujan Atas
Terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 3.300 – 4.100 m dari permukaan laut. Tipe vegetasi hutan hujan atas pada umumnya berupa kelompok hutan yang terpisah-pisah oleh padang rumput dan belukar.. Penyebarannya hanya di Irian Jaya meliputi, spesies pohon Conifer (berdaun jarum) genus Dacrydium, Libecedrus, Phyllocladus, Podocarpus, dan di sebagian daerah Indonesia Barat meliputi, kelompok-kelompok tegakan Leptospermum, Tristania, dan Phyllocladus.
Hutan hujan tropis memiliki fungsi yang vital bagi keberlangsungan hidup semua makhluk yang ada di bumi, dalam hal iklim dunia. Hutan hujan tropis sangat membantu sekali dalam hal menstabilkan iklim dunia dengan cara menyerap karbon dioksida yang ada diatmosfer, sehingga mengurangi pula dalam hal efek rumah kaca. Hutan hujan tropis juga merupakan rumah atau habitat bagi keberlangsungan hidup bagi makhluk hidup yang tinggal didalamnya, termasuk flora dan fauna yang terancam punah keberlangsungan hidupnya.
2.3.2  Hutan Luruh Temperate
Hutan temperate atau hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang yang memiliki empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat., secara astronomis di antara 23,50 LU – 66,50 LS. Hutan ini berisi tumbuhan yang daunnya gugur (meranggas) pada musim dingin. Keadaan ini akan berlangsung hingga menjelang musim semi. Pada musim semi, temperatur akan meningkat, salju mulai mencair, tumbuhan mulai berdaun kembali (bersemi). Curah hujan merata sepanjang tahun 75 – 100 cm/tahun.. Daerah persebaran hutan gugur terutama meliputi wilayah sub-tropis sampai sedang seperti Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Tengah dan Timur serta Chili.
Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon tinggi tumbuh dengan baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak begitu lebat tumbuhnya. Pada saat menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, suhu mulai turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah, coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur.
Pada saat musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosintesis. Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin). Menjelang musim panas, suhu naik, salju mencair, tumbuhan mulai berdaun kembali (bersemi) sehingga disebut musim semi.
2.3.3        Hutan Boreal
Kata Taiga (ti’ge ) berasal dari bahasa Rusia yang berarti hutan rawa dan kata lain dari taiga adalah Boreal Fores yang berarti hutan di daerah utara. Taiga mengalami 4 musim: musim panas, gugur, dingin dan semi. Musim panas berlangsung selama 3 sampai 6 bulan. Curah hujan sekitar 35 cm per tahun. Taiga merupakan daerah bermusim dingin panjang temperaturnya pun rendah mencapai -700 F dan musim panas mencapai suhu 900 F. Pada daerah dekat aliran sungai perbedaan suhu musim dingin dan panas tidak terlau jauh seperti suhu di daerah yang jauh dari aliran sungai, contohnya daerah Anchorage (dekat aliran sungai) suhu musim dingin -340 F dan musim panas 850 F sedangkan di Fairbanks (daerah pedalaman) suhu musim dingin -700 F dan musim panas 990 F. Kebakaran hutan di taiga sangat berperan bagi regenerasi tumbuhan di sana.
Hutan boreal ( hutan taiga) berkembang di daerah lintang tinggi dekat dengan kawasan lingkar kutub dan merupakan jenis hutan terluas kedua setelah hutan tropis. Hutan ini di tumbuhi oleh jenis pohon berdaun jarum, di mana dikawasan ini memiliki musim panas yang pendek dan musim dingin yang panjang. Pada musim panas suhu tinggi, pada musim dingin suhu sangat rendah.
Daerah yang termasuk kawasan ini meliputi Alaska amerika utara, skandinavia eropa utara, dan Siberia rusia. Permukaan tanah ini umumnya tertutup lumut kerak yang tebal. Flora khasnya adalah pohon berdaun jarum/pohon konifer, contoh pohon konifer adalah Pinus merkusii (pinus). Keanekaragaman tumbuhan di taiga rendah, vegetasinya nyaris seragam, dominan pohon-pohon konifer karena nyaris seragam, hutannya disebut hutan homogen. Tumbuhannya hijau sepanjang tahun, meskipun dalam musim dingin dengan suhu sangat rendah.
Taiga dimulai ketika ekosistem tundra berakhir, pertama kali ditandai dengan tumbuh cemara-cemara (black spruce) yang tumbuh jarang dan cemara putih (white spruce) di bagian selatan yang dibawahnya tumbuh tanaman perdu. Di sepanjang sungai tumbuh bercampur cemara dengan tumbuhan hutan gugur. Taiga merupakan hutan terbesar di bumi belahan utara mulai dari Selat Norwegia melintasi Siberia sampai ke Amerilka Utara. Walaupun dingin di daerah Alaska digunakan sebagai tempat tinggal.
2.3.4        Padang Rumput
Vegetasi padang rumput membentang mulai dari daerah tropis sampai dengan daerah beriklim sedang. Curah hujan antara 25 – 50 cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat mencapai 100 cm/tahun. Curah hujan yang relatif rendah turun secara tidak teratur. Turunnya hujan yang tidak teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik sehingga tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.
Terdapat pada daerah yang mempunyai musim kering panjang dan musim penghujan pendek, seperti di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, Hongaria, Rusia Selatan, Asia Tengah, Amerika Selatan, Australia. Padang rumput dapat terdapat di daerah dengan ketinggian antara 900 – 4000 m di atas permukaan laut, seperti misalnya padang rumput tanah, padang rumput pegunungan, komunitas rumput, dan lumut. Namun ada yang berada pada ketinggian kurang dari 100 m di atas permukaan laut, yaitu rawa gambut.
Tumbuhan dominannya adalah rumput, sedangkan pohon dan semak terdapat di sepanjang sungai di daerah tersebut. Daerah padang rumput yang relatif basah, seperti terdapat di Amerika Utara, rumputnya dapat mencapai tiga meter, misalnya rumput-rumput bluestem, dan indian grasses. Sedangkan daerah padang rumput yang kering mempunyai rumput yang pendek. Contohnya adalah rumput buffalo grasses dan rumput grama.
Tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan daerah yang
porositas (peresapan air) dan drainase (aliran air) kurang baik adalah rumput, meskipun ada pula tumbuhan lain yang hidup selain rumput, tetapi karena mereka merupakan vegetasi yang dominan maka disebut padang rumput. Nama padang rumput bermacam-macam seperti stepa di Rusia Selatan, puzta di Hongaria, prairi di Amerika Utara dan pampa di Argentina.
2.3.5        Tundra
Daerah tundra hanya terdapat di belahan bumi utara dan kebanyakan terletak di daerah lingkungan kutub utara. Daerah ini memiliki musim dingin yang panjang serta gelap dapat berlangsung selama 9 bulan, karena mendapat sedikit energi radiasi matahari . Selama musim dingin yang sangat dingin dan gelap, suhu rata-rata sekitar -28 ° C (-18 ° F), kadang-kadang serendah -50 ° C (-58 ° F) dan selama musim panas, suhu agak naik, dan lapisan atas lapisan es mencair, meninggalkan tanah yang sangat lembek. Umumnya suhu siang hari selama musim panas meningkat sampai sekitar 12 ° C (54 ° F) tetapi sering dapat menurun ke 3 ° C (37 ° F) atau bahkan di bawah titik beku. Musim panas berlangsung selama 3 bulan, pada masa inilah vegetasi mengalami pertumbuhan.
Daerah tundra di kutub ini dapat mengalami gelap berbulan-bulan, karena matahari hanya mencapai 23½° LU/LS. Tundra adalah suatu area dimana pertumbuhan pohon terhambat dengan rendahnya suhu lingkungan sekitar. Pada area ini, mayoritas tumbuhan yang hidup biasanya berupa lumut, rerumputan, dan pohon dari bangsa conifer. Tundra biasanya hidup di daerah dingin.
Tundra adalah daerah yang sangat berangin, dengan angin sering bertiup ke atas dari 48-97 km / jam (30-60 kilometer per jam). Namun, dalam hal curah hujan hanya sekitar 15-25 cm (6-10 inci) jatuh per tahun. Tanaman tundra yang penting meliputi rumput alang-alang, rerumputan, pohon-pohonan kerdil dan lumut foliosa, terutama Lichenes yang merupakan makanan bagi herbivore yang hidup di vegetasi tundra. Keanekaragaman hayati di tundra rendah: 1.700 spesies tumbuhan vaskular. Ekosisten tundra adalah daerah tanpa pohon ditemukan di Kutub Utara dan di puncak-puncak gunung, dimana iklim yang dingin dan berangin dan curah hujan sedikit.
Sumber: http://www.tundra.com
Karakteristik tundra yaitu :
1.      Iklim yang sangat dingin
2.      Keanekaragaman biotik rendah
3.      Struktur vegetasi sederhana
4.      Terdapat batasan drainase (aliran air)
5.      Musim pertumbuhan dan reproduksi pendek
6.      Energi dan nutrisi dalam bentuk bahan organik mati
2.3.6        Zone Arid Kering dan Padang Pasir
Vegetasi padang pasir terletak dibelahan bumi sekitar 20°-30° lintang utara dan lintang selatan atau di daerah tropika yang berbatasan dengan bioma padang rumput, curah hujan sangat rendah, + 25 cm/tahun, kelembaban udara sangat rendah, kecepatan penguapan air lebih cepat. Padang pasir mempunyai ciri-ciri khusus berupa pengaruh yang besar pada potensi evaporasi di atas curah hujan, dan air tanah cenderung menjadi asin disebabkan larutan garam tidak berpindah baik oleh pencucian air atau oleh air mengalir. Organisme padang pasir ada di bawah seleksi alam yang kuat untuk melindungi pembatasan penyediaan air.
Gurun (Padang pasir) merupakan daerah yang tidak mudah bagi tanaman untuk dapat tumbuh. karena sangat panas pada siang hari,. Pancaran matahari sangat terik, penguapan tinggi, dan suhu siang hari dapat mencapai 45°C pada musim panas, membeku pada malam hari dan kekurangan air. Hujan sekitar setahun sekali sehingga jenis tanaman yang hidup disana adalah jenis tumbuhan yang tahan terhadap kekeringan seperti pohon kaktus dan beberapa jenis rumput berduri.
Padang pasir Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Daerah padang pasir paling luas adalah terpusat di daerah sekitar 200 LU dari pantai Atlantik di Afrika sampai ke Asia Tengah. Padang pasir itu adalah kompleks padang pasir Sahara-Padang Pasir Arab-Padang Pasir Gobi yang menutupi atas 10 juta km2, kurang lebih 8% dari masa daratan non polar. Atas banyaknya daerah ini, terutama di bagian tengah, curah hujan setiap tahunnya hanya kecil, dan vegetasi menjadi berkurang untuk menyebar ke dalam belukar-belukar dan tanaman berbiji berkurang dalam melindungi tekanan-tekanan (Polunin, 1960).
Disebabkan tingginya evaporasi, dengan humiditas siang hari serendah 5%, tekanan topografik seringkali sedikit asin, demikianlah kadang-kadang habitat basah sangat kaku. Pada prinsipnya vegetasi di daerah padang pasir ini memiliki berbagai belukar seperti semak-semak creosote (Larrea tridentata), succulen (Euphorbia), succulen saquaro cactus (Cereus giganteus) dan bermacam-macam prickly pears (Opuntia sp.).
Tanaman-tanaman semusim merupakan komponen flora padang pasir yang nyata dan seringkali dominan. Banyak dari tanaman semusim ini yang mempunyai perkecualian laju fotosintetik yang tinggi (Money et al, 1976). Banyak spesies padang pasir memiliki fotocintesis C4 atau CAM. Fotosintesis C4 memberikan keuntungan selektif pada tanamn-tanaman padang pasir karena perkecualian laju fotosintetik mereka yang tinggi pada intensitas cahaya yang tinggi dan temperature yang hangat. Tetapi banyak tanaman semusim padang pasir yang merupakan tanaman C3, dan memiliki laju fotosintetik yang sama tinggi dengan laju fotosintetik tanaman-tanaman C4, serta sifat-sifat kejenuhan cahaya yang sama, meskipun temperature optimal mereka lebih rendah. Tanaman-tanaman ini diadaptasikan bagi pertumbuhan yang cepat yang mengikuti hujan pada musim dingin, sehingga mereka menyempurnakan siklus hidup mereka pada waktu temperature relative sejuk.
Banyak tanaman padang pasir berupa sukulen dan dapat menyimpan air dalam jumlah besar untuk digunakan selama periode kekeringan. Tanaman ini dapat mengasimilasi karbondiosida selama malam hari, ketika kehilangan air melalui stomata yang terbuka minimum, yaitu terjadi selama periode gelap dan mendekati nol pada siang hari.
Sedangkan menurut Ossting (1982), klasifikasi vegetasi terdiri dari 7 macam:
a.       Vegetasi Pantai
Vegetasi yang terletak di tepi pantai dan tidak terpengaruh oleh iklim serta berada diatas garis pasang tertinggi (Departemen Kehutanan). Salah tanaman yang terdapat di daerah pantai adalah kelapa, merupakan satu jenis tumbuhan dari keluarga Arecaceae.
b.      Vegetasi Mangrove/Rawa
Definisi kelompok: karakterisitik dari tanaman pantai,muara sungai atau delta yang berada di tempat yang terlindung di daerah pesisir pantai yang membentuk suatu ekosistem.
Definisi menurut FAO (1982): adalah jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang tumbuh pada daerah pasang surut.
Definisi menurut Macnae (1968): mangrove adalah suatu individu pohon sedangkan mangal adalah komunitas dari beberapa jenis tumbuhan.
Macam-macam Vegetasi Mangrove
· Vegetasi inti:
Jenis ini membentuk hutan mangrove di daerah yang mampu brtahan terhadap salinitas (garam) yang disebut sebagai Halophyta.kebanyakan jenis mangrove mempunyai adaptasi khusus untuk tumbuh dan berkembang,toleransi terhadap garam tinggi,dapat bertahan pada perendaman pasang surut.
· Vegetasi marginal:
Pada mangrove yang berada di darat,di rawa musiman,pantai dan atau mangrove marginal.
· Vegetasi fakultatif marginal:
Daerah yang banyak ditumbuhi tanaman meliaceae denagn jenisnya Carapa guianensis. Jenis lain Raphia taedigera.dimana pengaruh iklim katulistiwa sangat banyak,tumbuh jenis melaleuca leucadendron rawa.
Vegetasi yang tumbuh di daerah pantai berlumpur dengan jenis-jenis pohon diantaranya pohon bakau ( Rhizophora sp), Bruguiera sp., Sonneratia sp., Xylocarpus, Avicenia dan lain-lain. Terdapat di bagian barat kawasan yaitu di sekitar Sukadana dan Batu Barat.
c.       Vegetasi Payau
Adalah areal/bidang tanah yang berupa hutan lebat yang berawa-rawa, permukaan tanah tergenang selama enam bulan dan kumulatif dalam setahun dan pada kurin waktu tidak terjadi penggenangan (surut) tanah senantiasa jenuh air (Badan Pertanahan Nasional).
Vegetasi ini tumbuh di daerah pertemuan air sungai dan air laut yang terdapat di muara sungai. Jenis vegetasi di daerah payau adalah Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur.
d.      Vegetasi Gambut
Tipe vegetasi yang umumnya terdapat pada Daerah beriklim A atau B (Badan Pertanahan Nasional). jenis pohonnya antara lain ramin ( Gonystylus bancanus), dan jelutung ( Dyera sp).
Lahan gambut mempunyai penyebaran di lahan rawa, yaitu lahan yang menempati posisi peralihan diantara daratan dan sistem perairan. Lahan ini sepanjang tahun/selama waktu yang panjang dalam setahun selalu jenuh air (water logged) atau tergenang air. Tanah gambut terdapat di cekungan, depresi atau bagian-bagian terendah di pelimbahan dan menyebar di dataran rendah sampai tinggi. Yang paling dominan dan sangat luas adalah lahan gambut yang terdapat di lahan rawa di dataran rendah sepanjang pantai. Lahan gambut sangat luas umumnya menempati depresi luas yang menyebar diantara aliran bawah sungai besar dekat muara, dimana gerakan naik turunnya air tanah dipengaruhi pasang surut harian air laut.
Tanah gambut sebenarnya merupakan tanah yang baik untuk pertumbuhan tanaman bila ditinjau dari jumlah pori-pori yang berkaitan dengan pertukaran oksigen untuk pertumbuhan akar tanaman. Kapasitas memegang air yang tinggi daripada tanah mineral menyebabkan tanaman bisa berkembang lebih cepat. Akan tetapi dengan keberadaan sifat inheren yang lain seperti kemasaman yang tinggi, kejenuhan basa yang rendah dan miskin unsur hara baik mikro maupun makro menyebabkan tanah gambut digolongkan sebagai tanah marginal (Limin et al, 2000). Untuk itulah perlunya usaha untuk mengelola tanah tersebut dengan semestinya.
Tanaman yang dapat tumbuh di lahan gambut adalah kelapa sawit, sagu, nanas, cassava, kacang tanah, kedelai, jagung, ubi jalar, asparagus, sayuran juga dapat tumbuh di lahan gambut karena termasuk tanah yang cukup bagus untuk pertumbuhan tanaman. Tanamman lain yang dapat tumbuh seperti di Sumatra dan Kalimantan yaitu jambu air (Eugenia) Mangga (Mangosteen), rambutan (Ambak dan Melling, 2000) sedangkan di daerah pantai Ivory dengan gambut termasuk oligotropik, pisang dapat tumbuh dengan drainase 80-100 cm.
Beberapa spesies tanaman yang biasanya terdapat di dataran rendah seperti casuarina dan matoa; tanaman pertanian seperti nanas, melon, dan pisang; serta sayur mayur dan bijih-bijihan seperti cabai, ketimun, tomat, padi, buncis dan labu.
Tanaman lain yang dapat tumbuh di dataran rendah diantaranya : jagung, ketela pohon, ubi jalar, kacang-kacangan, karet, kopi robusta, kelapa sawit, tebu, cokelat, tembakau, kapuk.
            Sumber: http://www.gambut.com.
e.       Dataran Rendah
Vegetasi yang tumbuh dibawah ketinggian 700 m di atas permukaan laut (Departemen Kehutanan). Vegetasi yang terdapat banyak dijumpai pada ketinggian hampir 0 meter dpl. Daerah ini banyak terdapat tanah aluvial. Vegetasi tanah aluvial secara umum merupakan habitat yang subur dan mempunyai keaneragaman jenis yang tinggi. Terdapat di sekitar lembah Gunung Peramas dan Gunung Lobang Tedong, Sukadana. Jenis pohonnya antara lain pohon belian/ kayu besi (Eusideroxilon zwageri).
f.       Vegetasi Dataran Tinggi
Vegetasi yang tumbuh di ketinggian antara 700 - 1500 m diatas permukaan laut (Badan Pertanahan Nasional).
Ekosistem pada daerah dataran tinggi dibentuk oleh kondisi lingkungan yang ekstrem, antara lain suhu malam hari yang sangat rendah, intensitas sinar matahari yang tinggi pada siang hari namun disertai masa fotosintesa yang pendek, kabut tebal, curah hujan tinggi, serta kondisi tanah yang buruk. Tanaman yang tumbuh pada daerah tersebut sifatnya sangat khusus karena harus bertahan untuk hidup pada kondisi sulit tersebut.
Tanaman yang dapat tumbuh di daerah dataran tinggi diantaranya : cemara (tumbuhan berdaun jarum), ketela pohon, ubi jalar, kopi, cokelat, dst.

g.      Vegetasi Pegunungan
Vegetasi yang tumbuh diketinggian antara 1500-2500 m di atas permukaan laut (Departemen Kehutanan). Terdapat di bukit-bukit yang lebih rendah atau di lereng gunung.
Salah satunya adalah tanaman teh dan bunga Eidelweis. Teh dihasilkan oleh perkebunan besar dan perkebunan rakyat, di daerah pegunungan yang subur dan banyak turun hujan. Selain itu tanaman kopi juga dapat tumbuh di daerah pegunungan. Tanaman tembakau dapat juga tumbuh di daerah ini namun hanya dapat pada musim kemarau

2.4      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persebaran Vegetasi Hutan Antara Lain
2.4.1        Iklim
Iklim dengan unsur-unsurnya, seperti suhu udara, tekanan udara, kelembaban udara, angin dan curah hujan merupakan faktor utama yang mempengaruhi persebaran tumbuhan (flora) di permukaan bumi. Hutan hujan tropis merupakan hutan yang banyak dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi.
Perbedaan letak garis lintang dan ketinggian diatas pemukaan laut yang menyebabkan besarnya intensitas cahaya matahari dan curah hujan pada setiap daerah berbeda.
Misalnya pada daerah kutub utara terdapat bioma tundra yang menerima curah hujan sedikit dan intensitas cahaya matahari rendah, menyebabkan sedikit hewan dan tumbuhan yang tinggal. Karena iklim kutub, pemandangan yang tampak hanya padang rumput luas beku tanpa pepohonan. Pada saat musim panas yang singkat tumbuhan perdu kecil tumbuh berkembang dan tampak seperti semak. Berikut adalah piramida urutan tipe-tipe vegetasi dari yang jumlah spesiesnya sedikit sampai spesies yang berjumlah banyak.


2.4.2        Keadaan Tanah
Perbedaan jenis tanah, seperti pasir, alluvial, dan kapur serta jumlah zat mineral yang dikandung dalam humus mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Di daerah tropis akan hidup berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di daerah gurun atau bersalju hanya akan hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan tanah di gurun pasir.
2.4.3        Tinggi Rendah Permukaan Bumi
Permukaan bumi terdiri dari berbagai macam relief, seperti pegunungan dataran rendah, perbukitan dan daerah pantai. Perbedaan tinggi rendahnya permukaan bumi mengakibatkan variasi suhu udara. Variasi suhu udara mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan (flora) hutan yang terdapat di daerah pegunungan banyak di pengaruhi oleh ketinggian tempat.
2.4.4        Makhluk Hidup ( Biotik )
Makhluk hidup seperti manusia dan hewan memiliki pengaruh yang cukup besar dan persebaran tumbuhan ( flora ). Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik terutama manusia.
2.5      Interaksi dalam komunitas
Komunitas adalah kumpulan populasi yang berbeda di suatu daerah yang sama dan saling berinteraksi. Contoh komunitas, misalnya komunitas sawah dan sungai. Komunitas sawah disusun oleh bermacam-macam organisme, misalnya padi, belalang, burung, ular, dan gulma. Komunitas sungai terdiri dari ikan, ganggang, zooplankton, fitoplankton, dan dekomposer. Antara komunitas sungai dan sawah terjadi interaksi dalam bentuk peredaran nutrien dari air sungai ke sawah dan peredaran organisme hidup dari kedua komunitas tersebut.
Interaksi antar komunitas cukup komplek karena tidak hanya melibatkan organisme, tapi juga aliran energi dan makanan. Interaksi antar komunitas dapat kita amati, misalnya pada daur karbon. Daur karbon melibatkan ekosistem yang berbeda misalnya laut dan darat.

2.6      Karakteristik komunitas tumbuhan
2.6.1        Keanekaragaman
Sumber Variasi Keanekaragaman
o   Variasi Perkembangan
Variasi perkembangan ini ditentukan secara genetis. Contoh pada tanaman cocor bebek ( Kalanchoe pinnata ) terdapat daun tunggal dan majemuk menyirip beranak daun tiga pada satu individu tanaman yang sering disebut heteromorfisme.
o   Variasi yang disebabkan Lingkungan
Tumbuh-tumbuhan keseluruhan beranekaragam dan banyak jenisnya menyimpang dalam pertumbuhannya, sebagai respon terhadap lingkungan. Perubahan ini disebabkan karena sinar, air, makanan, suhu, dan tanah.
Sebagai contoh adalah tumbuhan kaktus. Daun tanaman ini berbentuk seperi duri atau jarum dan tebal karena tumbuh di daerah yang sinarnya berlebih yaitu di padang pasir atau gurun. Sehingga agar tidak terjadi transpirasi berlebihan maka bentuk daun tidak melebar seperti pada umumnya daun.
Terdapat pula variasi lingkungan yang menyebabkan keanekaragaman tumbuhan dalam bentuk :
o   Ketinggian
Perbedaan ketinggian suatu tempat dari garis pantai akan menyebabkan perbedaan mikro klimat antara lain suhu, kelembaban, curah hujan, dan lain-lain. Sehingga mengakibatkan sebaran berbagai jenis tumbuhan berbeda-beda. Ketinggian tempat juga dapat menyebabkan isolasi jenis.
o   Letak Geografis
Letak geografis menyebabkan perbedaan makro klimat yang sangat tajam seperti perbedaan musim, curah hujan, kelembaban, suhu, dan intensitas cahaya matahari
  • Variasi Genetika
  1. Mutasi
Mutasi adalah perubahan yang terjadi secara mendadak diteruskan ke generasi berikutnya yang bersifat kekal. Keturunan yang terjadi berbeda, baik bentuk maupun sifatnya dengan induk. Mutasi dapat terjadi di alam bebas maupun secara buatan.
  1. Rekombinasi dan Aliran Gen
Gerakan dan perukaran gen-gen di antara anggota populasi melukiskan perpindahan gen-gen. Rekombinasi adalah hasil akibat kombinasi baru dari gen yang telah ada. Perpindahan gen dan rekomendasi melibatkan gen-gen yang ada dari pembawaan

2.6.2        Struktur dan komposisi komunitas
           Studi mengenai struktur dan klasifikasi komunitas tumbuhan dapat juga disebut Fitososiologi.Analisisnya disebut analisis vegetasi, yang terdiri atas analisis kualitatif dan kuantitatif.
·         Analisis kualitatif komunitas tumbuhan
Struktur kualitatif dan komposisi komunitas dapat dinyatakan berdasarkan observasi (pengamatan) visual tanpa sampling khusus atau pengukuran dalam perhitungan (menyatakan) karakteristik florestik secara kualitatif (isi spesies) stratifikasi, aspek sosiabilitasnya, asosiasi antar spesies, bentuk pertumbuhan dan spektrum biologi dipelajari di lapang.
·      Komposisi floristik/anggota spesies komunitas.
            Studi ini ialah pada spesies dari komunitas yang dianggap penting. Ini dapat dilakukan dengan koleksi yang periodik kemudian diidentifikasi dengan waktu sepanjang tahun.
·      Stratifikasi
            Jumlah strata pelapisan dalam komunitas dapat dinyatakan dengan observasi, jika secara periodik mengamati tumbuhan untuk sepanjang tahun, penggantian dalam kenampakan vegetasi akan terlihat dengan penggantian dalam cuaca. Dengan ini maka hubungan spesies dalam beberapa cuaca pada satu tahun dicatat.
·      Bentuk pertumbuhan
            Sebagian besar kenampakan umum dan pertambahan spesies dalam komunitas dikelompokkan kedalam klas bentuk pertumbuhan yang berbeda. Pembagian klasnya seperti yang telah dibicarakan pada bab yang lalu. Berdasarkan nilai persentase perbedaan klas bentuk pertumbuhan, habitat alami yang nyata dari komunitas dapat diketahui.
·      Sosiabilitas
            Dalam komunitas tumbuhan, spesies secara individu tidak selamanya tersebar. Individu beberapa spesies tumbuhan dengan jarak yang lebar, sedang beberapa yang lain terdapat dalam bentuk rumpun atau menutup lahan.
            Beberapa individu spesies jika tumbuhan dalam rumpun akan baik dan mereka cenderung mengadakan kompetisi yang hebat sehingga tidak dapat membentuk populasi yang besar. Berdasarkan itu maka dapat dikelompokkan dalam klas-klas.
o   Klas 1. Pohon tumbuh individual (singly)
o   Klas 2. Kelompok tersebar atau ikatan terbuka
o   Klas 3. Menutup tanah dengan anak yang kecil dan terpencar
o   Klas 4. Menutup tanah lebih luas lagi
o   Klas 5. Seluruh lahan tertutup oleh lapisan vegetasi
Derajad sosiabilitas yang tinggi terlihat jika tumbuhan itu mempunyai produktivitas biji tinggi, daya tumbuh tinggi serta mempunyai daya adaptasi yang besar.
·         Assosiasi antar spesifik
Jika vegetasi mempunyai sampai dua spesies yang berbeda atau lebih dekat satu sama lain, mereka membentuk sebagai komunitas tipe assosiasi-assosiasi antar spesies ini dapat terjadi pada beberapa kemungkinan:
1.      Spesies-spesies dapat hidup dalam lingkungan yang sama
2.      Spesies-spesies mungkin mempunyai distribusi geografi yang sama
3.      Spesies-spesies mempunyai bentuk pertumbuhan yang berlainan (sehingga memperkecil kompetisi)
4.      Tumbuhan atau spesies yang lain saling berinteraksi yang menguntungkan salah satu atau keduanya, assosiasi ini mudah dilihat di lapang.
2.6.3        Analisis kuantitatif komunitas tumbuhan
             Untuk analisis ada beberapa metode pengambilan sampel, yaitu:
1.      Metode kuadrat (Quadrat methode)
2.      Metode transek (Transeck methode)
3.      Metode loop (Loop methode)
4.      Metode titik (Point less/point methode)
1.      Metode kuadrat
 Menurut Weaver dan Clements (1938) kuadrat adalah daerah persegi dengan berbagai ukuran. Ukuran tersebut bervariasi dari 1 dm2 sampai 100 m2. Bentuk petak sampel dapat persegi, persegi panjang atau lingkaran.
Metode kuadrat juga ada beberapa jenis:
a.       Liat quadrat: Spesies di luar petak sampel dicatat.
b.      Count/list count quadrat: Metode ini dikerjakan dengan menghitung jumlah spesies yang ada beberapa batang dari masing-masing spesies di dalam petak. Jadi merupakan suatu daftar spesies yang ada di daerah yang diselidiki.
c.       Cover quadrat (basal area kuadrat): Penutupan relatif dicatat, jadi persentase tanah yag tertutup vegetasi. Metode ini digunakan untuk memperkirakan berapa area (penutupan relatif) yang diperlukan tiap-tiap spesies dan berapa total basal dari vegetasi di suatu daerah. Total basal dari vegetasi merupakan penjumlahan basal area dari beberapa jenis tanaman.
d.      Chart quadrat: Penggambaran letak/bentuk tumbuhan disebut Pantograf. Metode ini ter-utama berguna dalam mereproduksi secara tepat tepi-tepi vegetasi dan menentukan letak tiap-tiap spesies yang vegetasinya tidak begitu rapat. Alat yang digunakan pantograf dan planimeter. Pantograf diperlengkapi dengan lengan pantograf. Planimeter merupakan alat yang dipakai dalam pantograf yaitu alat otomatis mencatat ukuran suatu luas bila batas-batasnya diikuti dengan jarumnya.
2.      Metode Transek
Transek adalah jalur sempit melintang lahan yang akan dipelajari/diselidiki. Tujuan: untuk mengetahui hubungan perubahan vegetasi dan perubahan lingkungan. Atau: untuk mengetahui jenis vegetasi yang ada di suatu lahan secara cepat.Ada dua macam transek:
o   Belt transect (transek sabuk)
Belt transek merupakan jalur vegetasi yang lebarnya sama dan sangat panjang. Lebar jalur ditentukan oleh sifat-sifat vegetasinya untuk menunjukkan bagan yang sebenarnya.
Lebar jalur untuk hutan antara 1-10 m. Transek 1 m digunakan jika semak dan tunas di bawah diikutkan, tetapi bila hanya pohon-pohonnya yang dewasa yang dipetakan, transek 10 m yang baik.
Panjang transek tergantung tujuan penelitian. Setiap segment dipelajari vegetasinya.
o   Line transect (transek garis)
Dalam metode ini garis-garis merupakan petak contoh (plot). Tanaman yang berada tepat pada garis dicatat jenisnya dan berapa kali terdapat/dijumpai.
3.      Metode Loop
                        Metode ini digunakan untuk rerumputan dan herba.
Prosedurnya:
o   Dibuat lingkaran kecil (loop) dengan diameter 2 cm.
o   Tentukan titik secara random, kemudian dari titik itu dibuat jalur sepanjang 33,5 m.
o   Pada setiap 1 meter titik observasi ditandai pada tempat sentimeter yang ke 33, 66 dan 100. Jadi setiap 1 meter ada 3 titik observasi, dan pada jarak 33 meter ada 99 titik observasi.
o   Titik yang 100 terletak pada jarak 33,33 meter.
o   Kemudian disetiap titik observasi (loop) dijatuhkan (diletakkan) dan dicatat spesies yang berada di dalam lingkaran.
4.      Metode Titik (Point Less/Point Methode)
Metode ini merupakan salah satu metode yang tidak memerlukan luas tempat pengambilan contoh atau suatu luas kuadrat tertentu. Cara ini  terdiri dari suatu seri titik-titik yang telah ditentukan di lapang, dengan letak bisa tersebar secara random atau merupakan garis lurus (berupa deretan titik-titik). Umumnya dilakukan dengan susunan titik-titik berdasarkan garis lurus yang searah dengan mata angin (arah kompas).Ada dua macam metode titik:
a.    Metode titik dengan kerangka (Point Frame Method)
Pada setiap titik dicari jenis-jenis yang tertunjuk/terkena tusuk. Alat penujuk adalah kawat/paku. Dicatat semua jenis dan jumlah individunya. Beberapa kali frame diletakkan dan beberapa kali jenis dikenai, kemudian dicatat. Method ini digunakan untuk rumput dan herba.
b.      Metode titik pusat (Point Center/Quarter Method)
Prosedur:
o   Di tempat yang akan diteliti ditancapkan jarum/paku yang diatasnya dipasang kompas -  Daerah itu, dengan titik sebagai pusat dibagi 4 bagian (kuadran).
o   Tumbuhan yang diambil datanya (dianalisis) disetiap kuadran adalah satu pohon (sampling) yang terdekat dengan titik pusat. Data yang diambil adalah jarak dari pohon ke titik pusat dan diameter pohon pada ketinggian pohon setinggi dada (1,37 m). Katagori pohon jika memiliki diameter lebih dari 10 cm dan katagori anakan pohon jika mempunyai diameter 2,5 cm sampai 10 cm.

2.6.4        Dominansi
Disini komunitas tumbuhan yang besar dibagi kedalam bagian-bagian yang lebih kecil dengan dasar komposisi dan dominasi spesies. Klasifikasi seperti ini memerlukan pengetahuan isi spesies dalam komunitas itu frekuensinya, dominasinya dan lamanya spesies itu berada (fideling/kesetiaan). Komunitas diberi nama dengan spesies yang dominan atau yang memperlihatkan frekuensi tinggi misalnya: Betula-Rhododendron-Magnolia assosiasi, Kruing-Kamper-Meranti-Jati.
Clements mengakui adanya dinamika komunitas alam dan ia mengembangkan klasifikasi floristik yang menekankan pada suksesi, dominasi, konstansi diagnose spesies. Menurut Clements vegetasi dapat dianalisa kedalam unit klas-klas berikut dalam urutan yang turun.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1.      Komunitas adalah kumpulan organisme hidup yang saling berhubungan baik antara mereka maupun lingkungannya.
2.      Di dalam kehidupan bersama antara spesies terjadi bermacam-macam interaksi seperti: mutualisme, eksploitasi, parasit, komensalisme, dan kompetisi.
3.      Yang dimaksud dengan struktur komunitas adalah bentuk dari komunitas dilihat dari stratifikasinya (lapisan dari atas kebawah) secara horisontal bentuk pertumbuhannya (Phanerophytes, Chamaephytes, Hemicryptophytes, Cryptophytes dan Therophytes), sosiasilitasnya, assosiasinya antar spesifik serta kerapatan dan biomas (analisis kuantitatif) sedang komposisi komunitas adalah anggota spesies komunitas.
4.      Ecotone adalah suatu zona (daerah) peralihan (transisi) atau pertemuan antara dua komunitas yang berbeda dan menunjukkan sifat yang khas.
5.      Dinamika komunitas (evolusi komunitas), evolusi yang terjadi pada komunitas tumbuhan di suatu tanah yang kosong (bero) terjadi dalam waktu lama dan bertahap dimana setiap tahap dicirikan oleh himpunan utama suatu populasi tumbuhan dan dominasi. Pada umumnya evolusi komunitas vegetasi melalui tahap-tahap sebagai: nudasi, migran eksesis, agregasi, evolusi interaksi komunitas, invasi, reaksi, stabilisasi dan klimaks.
6.      Klasifikasi komunitas, Pada umumnya komunitas vegetasi diklasifikasikan berdasarkan fisiognomi, habitat dan komposisi dan dominasi spesies. Menurut Clements, vegetasi dapat dianalisa kedalam unit klas-klas sebagai berikut dalam urutan yang menurun: formasi, assosiasi, fasiasi, konsosiasi dan klans.
7.      Faktor Yang Mempengaruhi Persebaran Vegetasi Hutan adalah Iklim, Keadaan Tanah, Tinggi Rendah Permukaan Bumi dan Makhluk Hidup (Biotik)
8.      Studi struktur dan klasifikasi komunitas tumbuhan (vegetasi) disebut juga fitososiologi analisis vegetasinya disebut analisis vegetasi yang dapat secara kualitatif dan kuantitatif.



DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. 2007. Jenis-jenis Bioma.  http://ikzzir.blogspot.com/2007/12/t-aiga-merupakan-salah-satu-jenis-bioma.html diakses tanggal 15 oktober 2011
Anonymous. 2010. Bilogi.  http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Biologi%203.htm diakses tanggal tanggal 15 Oktober 2011
Indriyanto. 2008. Ekologi Hutan. PT Bumi Aksara :Jakarta
Jumin, Hasan Basri. 1992. Ekologi Tanaman. Rajawali Press: Jakarta
McNaughton, S.J, dkk. 1998. Ekologi Umum Edisi Ke dua. UGM Press: Yogyakarta
Michael, P. 1995.  Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. UI Press: Jakarta.
Rahardjanto, Abdulkadir.  2001.  Ekologi Umum. Umm Press: Malang.
Rohman, Fatchur dan I Wayan Sumberartha.  2001.  Petunjuk Praktikum Ekologi Tumbuhan. JICA: Malang.
Syafei, Eden Surasana. 1990.  Pengantar Ekologi Tumbuhan.  ITB: Bandung.
Wolf, Larry dan S.J McNaughton. 1990.  Ekologi Umum.  UGM Press: Jogjakarta.